Thursday, June 3, 2010

Istimewa Menjadi Ibu Rumah Tangga

Berawal dari pertanyaan seorang teman lama, ketika setelah sekian lama tidak bertemu pertanyaan pertama yang terlontar adalah: “Sekarang kerja dimana?” Untuk menjawab pertanyaan itu tidak sedikit seorang istri yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga menjawab kian lirih dan tertunduk malu, rasanya berat untuk menjawab pertanyaan itu, biasanya selalu cari celah berusaha mengalihkan pembicaraan. Apalgi jika teman lama tersebut sukses berkarir di perusahaan besar.

Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan Universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude yang kemudian hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan juga ibu bagi anak-anaknya, dia harus berhadapan dengan nasihat dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuman di rumah saja ngurus suami dan anak!” Padahal putri tercintanya itu hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya, disanalah ia ingin mencari surga.
Bukankan setiap manusia itu akan dipinta pertangunggjawabanya diakhirat nanti? Begitupun dengan seorang istri, ia akan dipinta pertangungjawabanya di yaumul akhir nanti. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw: “…Seorang wanita bertanggung jawab atas keluarganya, suami dan putra-putrinya, ia akan ditanya tentang tanggung jawabnya itu…” ( HR. Muslim dari Ibnu Umar).
Profesi menjadi seorang Ibu Rumah Tangga bukanlah sesuatu yang hina, akan tetapi menjadi Ibu Rumah Tangga sangatlah istimewa! Sangatlah mulia! Kenapa? Karena Islam sendiri melihat tangungg jawab yang amat berat yang di emban oleh seorang Ibu. Menjadi Ibu Rumah Tangga tidaklah mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, namun disini seorang Ibu memiliki tangungg jawab yang luar biasa. Jika seorang suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara 8-10 jam misalnya, maka sesungungguhnya seorang Ibu Rumah Tangga mempunyai jam kerja yang sangat panjang, yaitu 24 jam. Seorang Ibu tidak memiliki jam kerja tertentu, artinya seorang Ibu di rumah tidak pernah berhenti dari tugasnya, dimulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Ia harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan.
Itulah sebabnya, kita bisa dapati di luar sana tidak sedikit para istri yang lebih memilih profesi menjadi wanita karir ketimbang harus mengurus rumah, anak dan suaminya. Sungguh sangat disayangkan! Karena sesungungguhnya ia telah menyianyiakan kesempatan yang begitu istimewa. Menurut salah satu sumber mengatakan bahwa ketika mereka mengadakan penelitian ke barat sana, kemudian ditanya profesi lalu menjawab “Saya adalah Ibu Rumah Tangga” secara sepontan mereka serempak mengatakan: “Waw! It’s great!” mereka memberi nilai plus bagi seorang Ibu Rumah Tangga. Alasanya, ya itu tadi, mereka lebih memilih karir lalu menitipkan anak-anak nya ke tempat-tempat penitipan anak. So, kenapa kita harus malu?
Menurut kajian ilmiah, akhir-akhir ini menegaskan kembali pentingnya seorang istri menjadi Ibu Rumah Tangga yang terpelajar. Karena tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga tidak berarti ia tidak membutuhkan ilmu pengetahuan bukan? Bahkan sebaliknya, ia membutuhkan berbagai ilmu pengetahuan, baik itu ilmu pengetahuan komprehensif yang meliputi berbagai spesialisasi ilmu pengetahuan modern yang mencakup berbagai bidang pendidikan serta mengetahui masalah-masalah aktual tentunya. Apalagi tuntutan zaman sekarang ini yang semakin canggih, sehingga seorang Ibu Rumah Tangga dituntut untuk memiliki wawasan yang luas. Namun perlu diingat! Sebagai seorang muslimah, ilmu yang kita dapat tak cukup dengan yang umum-umum saja. Namun imbangi juga dengan ilmu agama (ad-dien). Karena ini adalah ilmu dasar yang harus kita tanamkan pertama kali untuk anak-anak kita nanti. Misalnya, kita tahu bahwa dosa itu buruk, tapi kita tahu perkara apa saja yang termasuk dosa? Melainkan hanya menurut prasangka kita dan anggapan masyarakat semata. Cukup berbahaya bukan?
Alhamdulillah, sekarang sangat mudah sekali untuk mendapatkan ilmu bagi orang-orang yang mau mencari. Majelis ilmu ada dimana-mana, buku-buku sudah banyak diterjemahkan, situs-situs Islam pun sangat mudah untuk di akses. Lalu apalagi yang mengahalangi kita? Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang terhalangi dari ilmu karena kemlasan ataupun karena kesombongan kita. Na’udzubillah…
::Keistimewaan menjadi Ibu Rumah Tangga::
Pertama, Ibu adalah Madrasah atau Sekolah bagi anak-anaknya.
Sebuah sya’ir arab mengungkapkan: “ Seorang Ibu tak ubahnya bagai sekolah. Bila kita mempersiapkan sekolah itu secara baik, berarti kita telah memepersiapkan suatu bangsa dengan generasi emas”.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa, pertumbuhan generasi suatu bangsa pertama kali berada dibuaian para Ibu. Ini berarti seorang Ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Sebuah tugas yang istimewa! Bahkan mulia! Dimulai dengan mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, mentancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan kepada Al-Quran dan As-sunnah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al-Haq, mengajari mereka beribadah pada Allah yang telah menciptkan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak yang mulia, mengajari mereka agar menjadi pemberani namun tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengejari mereka untuk bersabar, dan masih banyak lagi. Termasuk didalamnya mengajari mereka yang mungkin menurut orang lain dianggap sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengejarkan kepada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tahu bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.
Itulah sebabnya, seorang pendidik tentu harus berilmu serta berwawasan luas. Tidak hanya ilmu yang umum-umum saja, tapi juga harus imbangi dengan ilmu agama (ad-dien) tentunya. Selain itu juga seorang pendidik itu harus berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarganya. Karenanya, seorang Ibu yang cerdas dan shalihah tentu saja akan melahirkan keturunan yang cerdas dan shalih juga. Bi idznillah, InsyaAllah.
Kedua, Ibu adalah Dokter Pribadi di Rumah.
Bila diantara anggota keluarga ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankah seorang Ibu/Istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster) bagi suami dan anak-anaknya? Ibaratnya Ibulah yang memberikan pertolongan pertama bagi si pasien sebelum selanjutnya di bawa ke Rumah Sakit yang sebenarnya apabila sang Ibu tidak sanggup mengobatinya. Karena disini Ibu berusaha untuk meringankan beban sakit sang pasien. Dan kalaupun memang harus di rawat di rumah atapun di Rumah Sakit, semuanya tetap kembali pada Ibu. Ibulah yang senantiasa merawat hingga sang pasien pulih kembali. Lalu, pernahkah kita memikirkan berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi di rumah? Luar biasa bukan?
Ketiga, Ibu adalah Pshikolog di rumahnya.
Bukankah seorang Ibu juga adalah seorang pshikolog? Karena tentu kita bisa melihat sendiri kenyataanya, ketika anak-anak datang mengeluh dan mengadu atas kesusahan atau penderitaan yang mereka alami, ataupun ketika mereka berantem mungkin? Maka sang Ibu disini berusaha mencari jalan keluar dengan saran, nasihat dan belaian kasih sayang tentunya. Begitupula dengan suami, ketika merasa resah dan gelisah, bukankah istri menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu para suami meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Seperti yang kita ketahui bahwa istri bagi suami tidak hanya berperan sebagai istri tapi juga adalah merangkap sebagai Ibu. Ibaratnya seorang Ibu bagi anaknya. Lalu diluar sana kita bisa lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang phsikolog? Ada diantara mereka yang harus membayar hingga $100 perjam. Dan tentu saja tidak ada jaminan apakah mereka bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi bukan?
Keempat, Ibu adalah Manager di rumah suaminya.
Menjalankan profesi Ibu Rumah Tangga ini sungguh tidaklah semudah yang orang bayangkan. Ibaratnya dibutuhkan kemampuan yang sebanding dengan seorang General Manager di sebuah perusahaan besar. Dimana ia harus mengatur semua bagian agar perusahaanya berjalan dengan baik. Begitupun dengan para Ibu yang bertugas untuk mendidik anak-anak serta mengatur urusan rumah tangga tempat suaminya mencari ketenangan. Tidaklah tugas mereka itu sebagai sesuatu yang hina. Karena tiada lain tugas tersebut sebenarnya merupakan bentuk penghormatan kepada para Ibu sebagai “wadah kehidupan”. Ingatlah! Kualitas management keluarga menentukan kualitas anggotanya.
Kelima, Ibu sebagai Juru masak.
Bukankah seorang Ibu/Istri juga dituntut untuk pandai memasak? Ketika pagi hari tiba sebelum anggota keluarga pergi beraktifitas, hidangan diatas meja makan telah tersaji dengan sempurna. Begitupun ketika mereka tiba di rumah. Rasa lapar setelah beraktifitas seharian pun terobati dengan sajian hidangan yang menggoda. Sehingga hal ini bisa membuat anggota keluarga selalu ingin pulang lebih awal. Tentu saja itu semua membuat anak-anak juga suami lebih nyaman di rumah ketimbang harus berlama-lama diluar sana. Selain itu juga hidangan Ibu yang lebih lezat inilah yang membuat mereka lebih memilih pulang ketimbang harus mencicipi makanan diluar yang belum tentu sehat.
Keenam, Ibu adalah Teladan (Panutan) bagi Keluarganya.
Sebuah pepatah mengatakan: “Teladan orangtua lebih baik daripada seribu ucapan yang terlontar”. Itulah sebabnya disini Ibu berperan sebagai aktor, sebagai teladan, sebagai panutan bagi anak-anaknya. Apa yang Ibu ceritakan kepada anak-anaknya maka disana seorang Ibu juga harus memberikan contoh dari apa yang telah ia sampaikan kepada anak-anaknya. Perlu diingat bahwa setiap perbuatan kita, tingkah laku kita semuanya akan ditiru oleh anak-anak kita. Terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Nah, kita tidak ingin melihat anak-anak kita tumbuh menjadi seorang yang tidak baik bukan? Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Maka itulah disini seorang Ibu hendaknya selalu memiliki teladan yang baik buat anak-anaknya. Sebabnya perangai seorang Ibu sangat menentukan kepribadian anaknya dimasa depan. Wahai Ibu, jagalah anak-anak kalian, dan jadilah kalian sebagai suri tauladan bagi mereka dengan perangai yang baik dan tabiat yang mulia. Tentunya sorang suri tauladan yang memegang teguh agama Allah dan Nabi-Nya.
Itulah beberapa keistimewaan menjadi Ibu Rumah Tangga. Luar biasa bukan? Profesi ini sangatlah mulia, sangatlah istimewa, sebuah profesi yang sangat berat dan tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu wahai para Ibu. Al-jaza’u min jinsil ‘amal. Artinya balasan tergantung dari amal perbuatan yang ia lakukan. Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba maka pahala yang didapatinya pun semakin besar. Seorang pakar ekonomi Pakistan berkata: “ Jika Ibu-ibu rumah tangga meminta diberkan gaji, maka nilainya adalah satu milyar dollar pertahun” (Mahbub Junaidi). Waw! Sebuah nilai yang sangat besar untuk budget sebuah Negara bukan?
Bersyukurlah wahai Ibu-ibu Rumah Tangga yang memberikan tenaga dengan cinta dan keikhlasan hati serta kasih sayang untuk suami dan anak-anaknya tercinta. Karena tak lain, surgalah balasan bagi mereka. Karena pada hakikatnya, seorang Ibu Rumah tangga sejati memiliki karier yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi Rabbani, dan gajimu InsyaAllah kehidupan hakiki surgawi.
Wallahu a’lam bisshawwab.

Disampaikan oleh Bunda Nizhan. Cairo, 27 mei 2010
Artikel ini dikutip dari berbagai sumber.

3 komentar:

RinaSaepulloh said...

Syukran Bunda cantik......

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...

afwan tetehqu yang shalihah... semoga bermanfaat ya... ^.^

Post a Comment